Riset UTP Surakarta Ungkap Kunci Sukses MBG: Rantai Pasok Harus Kuat, Higienis, dan Berbasis Ekonomi Lokal
Surakarta, 21 Mei 2026 — Universitas Tunas Pembangunan Surakarta melalui tim penelitinya terus memperkuat kajian mengenai pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis melalui riset bertajuk “Analisis Kinerja Rantai Pasok Program Makan Bergizi Gratis untuk Mencapai Sustainability dengan Pendekatan Environmental, Social and Governance.” Riset ini merupakan bagian dari pelaksanaan Hibah Riset Fundamental Reguler Program Hibah BIMA Kemendiktisaintek.
Kegiatan riset ini merupakan kelanjutan dari agenda koordinasi awal bersama KPPG Sleman Harsono Budi Waluyo S.T.,M.T pada Selasa, 5 Mei 2026. Setelah koordinasi tersebut, tim peneliti UTP Surakarta melanjutkan kegiatan melalui Focus Group Discussion pada Selasa, 19 Mei 2026 bertempat di SPPG Magelang Mungkid Bumirejo. FGD tersebut membahas persiapan dan evaluasi Program Makan Bergizi Gratis di Kabupaten Sleman.
FGD diselenggarakan untuk memetakan kesiapan pelaksanaan program, menyamakan persepsi para pemangku kepentingan, serta mengevaluasi uji coba Program Makan Bergizi Gratis di wilayah Kabupaten Sleman. Diskusi difokuskan pada kesiapan logistik, rantai pasok bahan baku lokal, standardisasi gizi dan sanitasi, sumber daya manusia dan tata kelola, koordinasi serta edukasi dengan guru di sekolah, serta kolaborasi lintas sektor agar program berjalan efisien dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Ketua Peneliti, Dr. Susilaningtyas Budiana Kurniawati, S.E., M.Si., menjelaskan bahwa keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan makanan bagi peserta didik, tetapi juga oleh kekuatan sistem rantai pasok dari hulu sampai hilir.
“Program MBG harus dilihat sebagai sebuah ekosistem besar. Keberhasilannya sangat bergantung pada kesiapan rantai pasok, kualitas bahan baku, keamanan pangan, kapasitas sumber daya manusia, tata kelola keuangan, serta kolaborasi antara pemerintah, sekolah, relawan, SPPG, UMKM, petani, peternak, dan masyarakat lokal,” ujar Dr. Susilaningtyas Budiana Kurniawati.
Program Makan Bergizi Gratis perlu dipahami bukan hanya sebagai program penyediaan makanan bagi anak-anak sekolah, tetapi sebagai gerakan strategis nasional untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia, memperbaiki pola konsumsi pangan sehat, menggerakkan ekonomi lokal, serta membangun tata kelola pangan yang berkelanjutan.
Forum FGD menegaskan bahwa keberhasilan MBG sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, akademisi, satuan pelayanan, relawan, sekolah, pelaku UMKM, koperasi, BUMDes, serta ekosistem pangan lokal. Tim akademisi yang hadir berdasarkan penugasan resmi Kemendiktisaintek menegaskan bahwa keterlibatan perguruan tinggi tidak dimaksudkan untuk mengkritisi program secara politis, melainkan untuk memperkuat basis ilmiah, akuntabilitas, dan keberlanjutan program.
Akademisi berperan sebagai jembatan pengetahuan yang membantu membaca persoalan lapangan secara objektif, sekaligus meluruskan disinformasi yang berkembang di ruang publik. Evaluasi program perlu dilakukan secara berbasis data agar setiap rekomendasi yang diberikan mampu memperkuat pelaksanaan MBG secara konstruktif, terukur, dan berkelanjutan.
FGD juga menyoroti pentingnya MBG sebagai instrumen perubahan pola konsumsi anak. Di tengah masih ditemukannya persoalan stunting dan rendahnya preferensi anak terhadap sayur, buah, serta pangan bergizi, MBG diharapkan mampu menjadi intervensi negara sejak dini. Program ini tidak hanya menyediakan makanan, tetapi juga membentuk kebiasaan makan sehat yang dapat terbawa hingga ke lingkungan keluarga.
Dari sisi operasional, forum menekankan pentingnya tata kelola risiko dan komunikasi publik yang proporsional. Setiap kejadian kesehatan di lapangan perlu ditangani secara cepat, transparan, dan objektif dengan terminologi yang hati-hati. Penggunaan istilah “Kejadian Menonjol” dinilai lebih tepat untuk menjaga objektivitas sebelum ada kesimpulan medis atau investigasi resmi.
Selain itu, penguatan manajemen sumber daya manusia di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi perhatian penting. Keberadaan tenaga pengelola, ahli gizi, tenaga akuntansi, dan relawan lokal harus diperkuat karena SPPG beroperasi dalam sistem produksi pangan yang membutuhkan ketelitian, standar higienitas, kepatuhan administrasi, dan kesiapsiagaan kerja.
SPPG bukan sekadar dapur produksi makanan. SPPG merupakan simpul layanan publik yang menghubungkan gizi, manajemen SDM, akuntabilitas keuangan, rantai pasok, keselamatan kerja, serta pemberdayaan ekonomi lokal. Karena itu, penguatan kapasitas pengelola dan relawan menjadi salah satu agenda penting dalam memastikan keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis.
FGD turut menegaskan bahwa MBG memiliki potensi besar untuk menggerakkan ekonomi kerakyatan. Rantai pasok bahan pangan seperti beras, telur, sayuran, ikan, dan buah perlu diarahkan agar sebanyak mungkin berasal dari ekosistem lokal. Dengan demikian, MBG tidak hanya memberi manfaat bagi peserta didik, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi bagi petani, peternak, nelayan, UMKM, koperasi, BUMDes, dan kelompok masyarakat produktif lainnya.
Namun, pelaku UMKM lokal perlu memahami bahwa SPPG bekerja sebagai unit produksi yang membutuhkan bahan baku sesuai standar, bukan sekadar menerima produk jadi. Karena itu, diperlukan edukasi kepada UMKM agar mampu menyesuaikan jenis pasokan dengan daftar kebutuhan dasar SPPG, sehingga serapan produk lokal dapat berjalan lebih optimal dan tepat sasaran.
Salah satu gagasan penting yang mengemuka dalam forum adalah pengembangan ekosistem MBG berbasis ekonomi sirkular dan prinsip zero waste. Sisa makanan dan sampah organik dari sekolah penerima manfaat dapat diolah kembali menjadi produk bernilai, seperti pelet pakan ikan atau kompos. Hasil pengolahan tersebut berpotensi dikembangkan kembali dalam ekosistem pangan lokal yang mendukung kebutuhan SPPG terdekat, sehingga terbentuk siklus pangan yang lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan.
Ke depan, digitalisasi rantai pasok berbasis data real-time juga dinilai mendesak. Sistem informasi berbasis Internet of Things (IoT) dapat digunakan untuk memetakan ketersediaan komoditas pangan, daerah panen, kebutuhan logistik, serta potensi gangguan distribusi akibat cuaca ekstrem atau hambatan geografis. Namun, pengelolaan data pangan nasional harus memperhatikan aspek keamanan negara dan sebaiknya dikelola secara internal agar tidak menimbulkan risiko kebocoran data strategis.
Forum juga merekomendasikan penguatan infrastruktur logistik pangan, termasuk penyediaan cold storage atau fasilitas penyimpanan bersuhu rendah di tingkat lokal. Infrastruktur ini penting untuk menekan pembusukan hasil pertanian, menjaga kualitas bahan baku, dan memastikan stabilitas pasokan bagi SPPG.
Penelitian ini dilaksanakan oleh Tim Riset Inti Universitas Tunas Pembangunan Surakarta yang terdiri atas Dr. Susilaningtyas Budiana Kurniawati, S.E., M.Si. sebagai ketua peneliti, serta Syahriar Abdullah, S.E., M.Si. dan Eny Kusumawati, M.Pd. sebagai anggota peneliti. Kegiatan riset ini juga didukung oleh Grup Riset yang terdiri atas Dr. Retnoning Ambarwati, S.E., M.Si.; Dr. Elvia Ivada, S.E., M.Si., Ak.; dan Zandra Dwanita Widodo, S.Pd., S.E., M.M.
Selain melibatkan dosen lintas fakultas, riset ini juga melibatkan mahasiswa dari beberapa program studi sebagai bagian dari penguatan budaya riset kolaboratif di lingkungan Universitas Tunas Pembangunan Surakarta. Mahasiswa yang terlibat meliputi Ardyan Farhand Adis, Melani Regita Cahyani, dan Ellvia Magdalena dari Program Studi Akuntansi; Hernawati dan Faradilla Solikah Ayu Permatasari dari Program Studi Manajemen; serta Revandra Thalitha Kumala Putri dan Laras Ayu Putri Budiarti dari Program Studi Bimbingan dan Konseling.
Melalui riset ini, UTP Surakarta menegaskan komitmennya untuk menghadirkan rekomendasi berbasis data bagi pemerintah dan pemangku kepentingan dalam memperkuat pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis. Hasil kajian ini diharapkan dapat mendukung terwujudnya MBG yang lebih tepat sasaran, aman, higienis, akuntabel, ramah lingkungan, dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi lokal.
Dengan pendekatan Environmental, Social and Governance, riset UTP Surakarta diharapkan mampu memberikan kontribusi akademik dan praktis dalam membangun model rantai pasok MBG yang kuat, transparan, higienis, dan berkelanjutan bagi peserta didik, sekolah, pesantren, pelaku UMKM, petani, peternak, kelompok wanita tani, serta masyarakat luas.
Secara umum, FGD menyimpulkan bahwa keberhasilan MBG membutuhkan pendekatan lintas sektor yang kuat. Program ini tidak dapat hanya dilihat dari aspek penyediaan makanan, tetapi harus dipahami sebagai ekosistem besar yang mencakup gizi anak, tata kelola keuangan, keselamatan pangan, pemberdayaan ekonomi lokal, manajemen SDM, inovasi digital, serta pengelolaan limbah berkelanjutan.
Dengan tata kelola yang semakin kuat, MBG berpotensi menjadi salah satu fondasi penting menuju Indonesia Emas 2045. Program ini dapat menjadi instrumen nyata negara dalam membangun generasi sehat, memperkuat ekonomi rakyat, serta menciptakan sistem pangan yang lebih tangguh, inklusif, akuntabel, dan berkelanjutan.
Universitas Tunas Pembangunan Surakarta berkomitmen mendukung penguatan riset kolaboratif, pengabdian kepada masyarakat, dan rekomendasi kebijakan berbasis data. Melalui keterlibatan dosen lintas fakultas dan mahasiswa lintas program studi, UTP Surakarta terus mendorong kontribusi akademik yang relevan dengan kebutuhan pembangunan nasional, termasuk dalam bidang gizi, ekonomi lokal, tata kelola program publik, dan keberlanjutan lingkungan.
Universitas Tunas Pembangunan
Kampus 1 Jl. Balekambang Lor No. 1,Manahan,Surakarta, Jawa Tengah
Kampus 2 Jl. Walanda Maramis No.31, Nusukan, Kec. Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah
Apa Yang Kamu Butuhkan ?
Konsultasi OnlinePanduan Pendaftaran
E-Brosur
Langsung Daftarkan Dirimu
Pendaftaran Mahasiswa Baru