Riset UTP Surakarta: Program MBG Gerakkan Ekonomi Lokal, Koperasi Perlu Diperkuat
SURAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berkontribusi terhadap pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga mulai menggerakkan ekonomi lokal melalui keterlibatan koperasi, petani, UMKM, hingga pedagang pangan. Namun, penguatan kapasitas koperasi dinilai menjadi pekerjaan rumah agar manfaat ekonomi program ini dapat semakin optimal.
Temuan tersebut diungkap tim peneliti Universitas Tunas Pembangunan Surakarta (UTP) setelah melakukan penelitian lapangan di sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Solo Raya, meliputi SPPG Parangjoro Sukoharjo, SPPG Kepatihan Kulon Jebres, dan SPPG Joyotakan Serengan.
Penelitian dipimpin oleh Dr. Susilaningtyas Budiana Kurniawati, S.E., M.Si., dengan anggota Syahriar Abdullah, S.E., M.Si. dan Eny Kusumawati, M.Pd. Kegiatan riset turut didukung Dr. Retnoning Ambarwati, S.E., M.Si., Dr. Elvia Ivada, S.E., M.Si., Ak., serta Zandra Dwanita Widodo, S.Pd., S.E., M.M, serta mahasiswa dari manajemen, akuntansi dan Bimbingan konseling. Dr. Susilaningtyas Budiana Kurniawati, S.E., M.Si., mengatakan keberhasilan Program MBG tidak hanya ditentukan oleh kemampuan dapur menyediakan makanan bergizi, tetapi juga oleh kekuatan rantai pasok yang menopangnya.
"Di balik ribuan porsi makanan setiap hari terdapat ekosistem ekonomi yang melibatkan koperasi, petani, UMKM, pemasok, dan tenaga kerja lokal. Jika rantai pasok ini semakin kuat, manfaat MBG tidak hanya dirasakan penerima program, tetapi juga masyarakat yang menjadi bagian dari sistem penyediaannya," ujarnya.
Hasil penelitian menunjukkan operasional SPPG menciptakan kebutuhan pangan dalam jumlah besar. SPPG Parangjoro melayani sekitar 2.424 penerima manfaat, sedangkan SPPG Joyotakan memiliki kapasitas hingga 3.188 penerima manfaat yang tersebar di 26 institusi pendidikan.
Besarnya kebutuhan tersebut membuka peluang pasar baru bagi pelaku usaha lokal. Di Parangjoro, sekitar 90 persen kebutuhan bahan pangan dipenuhi melalui Koperasi Merah Putih yang bekerja sama dengan petani dan produsen tahu-tempe setempat.
Dampak ekonomi juga dirasakan pelaku UMKM. Salah satu pemasok tempe yang menjadi mitra SPPG Kepatihan Kulon mengaku permintaan yang sebelumnya hanya berkisar 5–15 papan dari warung makan meningkat menjadi 100–300 papan dalam satu kali pemesanan untuk memenuhi kebutuhan Program MBG.
Meski demikian, penelitian juga menemukan sejumlah tantangan. Koperasi masih menghadapi keterbatasan modal kerja untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam skala besar. Selain itu, kualitas bahan baku, konsistensi pemasok, serta pengelolaan sisa makanan menjadi aspek yang masih perlu diperkuat.
Menurut Susilaningtyas, hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan Program MBG membutuhkan dukungan kebijakan yang tidak hanya berfokus pada penyediaan makanan, tetapi juga pada penguatan kelembagaan koperasi, pemberdayaan UMKM, dan pengembangan sistem rantai pasok yang berkelanjutan.
“Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa MBG memiliki efek berganda (multiplier effect) bagi masyarakat. Oleh karena itu, kebijakan pemerintah tidak hanya perlu memastikan kelancaran penyediaan makanan bergizi, tetapi juga mendorong penguatan koperasi, petani, UMKM, serta rantai pasok lokal agar program ini mampu menciptakan manfaat ekonomi yang berkelanjutan," ungkap Susilaningtyas.
Penelitian ini merupakan bagian dari Hibah Riset Fundamental Reguler Program Hibah BIMA Kemendiktisaintek dan melibatkan dosen serta mahasiswa lintas program studi di UTP Surakarta. Hasil riset diharapkan menjadi rekomendasi berbasis data bagi pemerintah dalam meningkatkan efektivitas sekaligus memperluas dampak ekonomi Program Makan Bergizi Gratis.
Universitas Tunas Pembangunan
Kampus 1 Jl. Balekambang Lor No. 1,Manahan,Surakarta, Jawa Tengah
Kampus 2 Jl. Walanda Maramis No.31, Nusukan, Kec. Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah
Apa Yang Kamu Butuhkan ?
Konsultasi OnlinePanduan Pendaftaran
E-Brosur
Langsung Daftarkan Dirimu
Pendaftaran Mahasiswa Baru