Riset UTP Surakarta: Keberhasilan Program MBG Ditentukan Kekuatan Rantai Pasok Lokal

Humas & Promosi

07 Juli 2026
83
slider

SURAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berperan meningkatkan gizi anak, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi lokal melalui keterlibatan petani, UMKM, dan pemasok pangan. Hal itu menjadi salah satu temuan penelitian tim Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Surakarta dalam studi lapangan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bolon, Karanganyar, dan SPPG Gagaksipat, Boyolali.

Penelitian ini merupakan bagian dari Hibah Riset Fundamental Reguler Program BIMA Kemendiktisaintek yang melibatkan dosen lintas disiplin dan mahasiswa dari Program Studi Akuntansi, Manajemen, serta Bimbingan dan Konseling UTP Surakarta. Diketuai oleh Dr. Susilaningtyas Budiana Kurniawati, S.E., M.Si., dan beranggotakan Syahriar Abdullah, S.E., M.Si. dan Eny Kusumawati, M.Pd. Kegiatan riset juga didukung oleh tim riset yang terdiri atas Dr. Retnoning Ambarwati, S.E., M.Si., Dr. Elvia Ivada, S.E., M.Si., Ak., dan Zandra Dwanita Widodo, S.Pd., S.E., M.M.

Susilaningtyas mengatakan keberhasilan Program MBG tidak hanya bergantung pada proses memasak, tetapi juga pada sistem rantai pasok yang mampu menjaga kualitas, kontinuitas, dan harga bahan pangan.

"Di balik ribuan porsi makanan bergizi setiap hari terdapat ekosistem yang melibatkan petani, UMKM, pemasok, hingga tenaga kerja lokal. Jika rantai pasok dikelola dengan baik, manfaat ekonominya akan dirasakan langsung oleh masyarakat," ujarnya.

Penelitian menemukan SPPG Bolon saat ini melayani sekitar 2.565 penerima manfaat, sedangkan jaringan empat unit SPPG Gagaksipat memproduksi sekitar 8.000 porsi makanan per hari. Di Gagaksipat, sebagian besar kebutuhan sayuran dipasok langsung dari petani Cepogo. Ketika pasokan terbatas, pengadaan dialihkan ke pemasok pasar untuk menjaga kelancaran distribusi.

Selain rantai pasok, tim peneliti juga menyoroti tantangan penerimaan menu bergizi oleh anak-anak. Sejumlah menu yang kurang sesuai dengan kebiasaan konsumsi berpotensi meningkatkan sisa makanan. Karena itu, pengelola dapur bersama ahli gizi terus melakukan inovasi menu agar lebih diterima tanpa mengurangi kandungan gizinya.

Aspek pengelolaan limbah juga menjadi perhatian penelitian. Di kedua SPPG, sisa makanan telah dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan sampah dipilah sebelum dikelola lebih lanjut. Namun, sistem pengolahan limbah dinilai masih perlu diperkuat agar lebih terintegrasi dan mendukung ekonomi sirkular.

Menurut Susilaningtyas, hasil penelitian membuka peluang bagi perguruan tinggi untuk menghadirkan inovasi teknologi pengolahan limbah organik sekaligus memperkuat efektivitas Program MBG.

"Kondisi ini membuka peluang bagi perguruan tinggi untuk menghadirkan inovasi teknologi pengolahan sampah organik yang lebih efektif, ramah lingkungan, dan memiliki nilai ekonomi," tambah Susilaningtyas.

Melalui riset tersebut, UTP Surakarta berharap dapat menghasilkan rekomendasi berbasis data bagi pemerintah dalam memperkuat pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis, sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan dari sisi pemenuhan gizi, tetapi juga dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.


Universitas Tunas Pembangunan

Kampus 1 Jl. Balekambang Lor No. 1,Manahan,Surakarta, Jawa Tengah

Kampus 2 Jl. Walanda Maramis No.31, Nusukan, Kec. Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah


Apa Yang Kamu Butuhkan ?

Konsultasi Online
Panduan Pendaftaran
E-Brosur


Langsung Daftarkan Dirimu
Pendaftaran Mahasiswa Baru